
Postingan ini adalah Nasehat untuk jiwaku, mudah-mudahan bermanfaat juga bagi Anda.
Mengingat dan mengenang masalalu yang menyedihkan adalah pekerjaan bodoh bahkan bisa disebut gila. Kesedihan dan kesnetapaan dengan mengingat masa lalu akan mematikan semangat, memadamkan tekad, dan memupuskan masa depan. Bagi orang yang cerdas, berkas-berkas masa lalu akan dilipat dan tak pernah dilihat kembali. Biarlah segala kesedihan berlalu, biarlah kita mengingat kebahagiaan saja. Karena demikian kita akan merasa lingkungan kita, teman, pasangan, keluarga adalah orang-orang yang membahagiakan. Kita akan merasa dirahmati seluruh perjalanan hidup ini. Toh dengan mengingat kesedihan dan kegalauan tidak dapat mengembalikan dan memperbaiki yang lalu, karena memang semua sudah berlalu.
Katakan dihatimu untuk setiap jiwa dihadapanmu, “engkaulah orang yang akan membahagiakanku”, dan engkau akan tersenyum ikhlas karenanya. Biarlah segala kebaikan yang terngiang selau, biarlah yang teringat hikmah dari setiap kejadian. Kita pernah juga membuat orang lain, sedih, nestapa, ill feel, gondok, dan bete dan juga berharap orang tersebut mau melupakan dan memaafkan kita.
Adalah bencana besar, manakala kita rela mengabaikan masa depan justru hanya disibukkan masa lalu. Itu, sama halnya dengan kita mengabaikan istana-istana yang indah dengan sibuk meratapi puing-puing yang telah lapuk. Orang yang berpikiran jernih tidak tidak akan pernah melihat dan menoleh kebelakang. Biarlah angin berhembus kedepan, biaralah air mengalir dari hulu ke hilir, biarlah kafilah meneruskan perjalanan dan biarkanlah hati berbahagia dengan cita masa depan yang menyenangkan.
Curhatku tentang Keabahagian adalah pekerjaan dan keterampilan hati

Aku tahu nikmatMu tak terhitung,
namun sengaja tetap kuhitung
agar aku tak pernah sempat menghitung kesedihanku…
Maafkan aku yang tak memahami dalamnya laut..
Dan hanya memahami garangnya ombak
Maafkan aku yang tak memahami …
Jangan resah dengan musibah-musibah yang menimpa diri kita. Jangan mengeluh dengan kegetiran yang datang bertubi-tubi. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan mendatangkan cobaan kepada mereka. Dan barang siapa rela dengan ujian itu, maka dia akan memperoleh kerelaannya. Maka barangsiapa yang membencinya maka dia akan memperoleh Kebencian-Nya”
Bukankah emas tidak akan berkilau sebelum ditempa berulang kali?
Curhat: untuk sahabat emasku..sahabat sejatiku.Aku terpukau oleh anggun kilaunya…
Aku membiarkan dengan segala prespektifnya, sesungguhnya janggal dihatiku, hanya satu pilihanku, kembali kediri sejatiku, berbicara dengan “sinoro edi” yang memahamiku, sungguh aku tidak mengambil hati atas segala penghakiman dan penghukuman, aku telah memaafkannya jauh sebelumnya. Toh, siapa yang menjadi hakim kelak akan menjadi terdakwa. Siapa yang terdakwa kelak akan terbebas. Dunia ini adalah cakra.

Nol - Awal Skala
Nol itu seperti surga. Nol sepertinya jauh lebih baik daripada memiliki hutang yang tak terbayarkan. Nol ternyata bukanlah titik terendah. Kita hanya sering menggunkannya sebagai awal skala dan senang dengan hal tersebut. Jadi ingat iklan pertamina “Dari Nol Pak”. Padahal mungkin kita lebih senang kalo mendengar “dari minus 10 ribu pak”.
Barat dalam masa kegelapan karena tidak memahami Nol. Bagaimana bisa melihat sisi positif dari hal negatif jika memandang nol saja tidak mampu. Nol harus ditemukan, bahkan sebelum bahasa tertulis dikembangkan. Seperti roda, nol adalah tonggak peradaban. Berbeda dengan Barat yang memandang nol dengan skeptik, bangsa-bangsa Timur menerima konsep itu dengan terbuka. Konsep agama yang menerima konsep kekosongan memudahkan nol lebih diterima. Konsep nol memungkinkan kita lebih memahami paradoks Maha Satu, dan Maha Tak Hingga. Nol adalah angka penting yang lahirnya bungsu namun tidak memahaminya berarti masa kegelapan.
Read more…
Jika hatimu sunyi,
tak berguna riuhnya deburan ombak,
cerewetnya para pedagang pasar,
karena kesunyian adalah kebekuan itu sendiri
Curhatku, ketika merasa sunyi dikeramaian
Engkaulah heroin pribadiku,
aku mencanduimu
sampai maut memaksaku meninggalkanmu.
.
…..
Curhatku dalam penantian yang tak mengenal lelah
Cinta dan hanya karena cinta.
Disakiti tanpa merasa sakit.
Ditinggalkan tanpa merasa sepi.
Merasakan kemarau seperti hujan.
Terik kukatakan cerah.
Optimis badai pasti berlalu.
Lupa akan duka.
Tanpa motivasi, tanpa pamrih aku mencintaimu.
Semoga kau tau.
Curhatku, diantara sepi yang tak kuhiraukan

Jika diam adalah emas,
maka bicara dengan benar, kepala dingin dan saling pengertian
adalah berlian.