Arsip

Archive for the ‘Keislaman’ Category

Memilihara Jenggot

Memelihara Jenggot

Sumber: Halal dan Haram dalam Islam
Oleh Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi
Alih bahasa: H. Mu’ammal Hamidy
Penerbit: PT. Bina Ilmu, 1993

Memelihara Jenggot

Memelihara Jenggot

Termasuk yang urgen dalam permasalahan kita ini, ialah tentang memelihara jenggot. Untuk ini Ibnu Umar telah meriwayatkan dari Nabi s.a.w. yang mengatakan sebagai berikut:

“Berbedalah kamu dengan orang-orang musyrik, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis.” (Riwayat Bukhari)

Perkataan i’fa (pelihara) dalam riwayat lain diartikan tarkuha wa ibqaauha (tinggalkanlah dan tetapkanlah).

Hadis ini menerangkan alasan diperintahkannya untuk memelihara jenggot dan mencukur kumis, yaitu supaya berbeda dengan orang-orang musyrik. Sedang yang dimaksud orang-orang musyrik di sini ialah orang-orang Majusi penyembah api, dimana mereka itu biasa menggunting jenggotnya, bahkan ada yang mencukurnya.

Perintah Rasulullah ini mengandung pendidikan untuk umat Islam supaya mereka mempunyai kepribadian tersendiri serta berbeda dengan orang kafir lahir dan batin, yang tersembunyi maupun yang tampak. Lebih-lebih dalam hal mencukur jenggot ini ada unsur-unsur menentang fitrah dan menyerupai orang perempuan. Sebab jenggot adalah lambang kesempurnaan laki-laki dan tanda-tanda yang membedakan dengan jenis lain.

Namun demikian, bukan berarti samasekali tidak boleh memotong jenggot dimana kadang-kadang jenggot itu kalau dibiarkan bisa panjang yang menjijikkan yang dapat mengganggu pemiliknya. Untuk itulah maka jenggot yang demikian boleh diambil/digunting kebawah maupun kesamping, sebagaimana tersebut dalam hadis rlwayat Tarmizi. Hal ini pernah juga dikerjakan oleh sementara ulama salaf, seperti kata Iyadh: “Mencukur, menggunting dan mencabut jenggot dimakruhkan. Tetapi kalau diambil dari panjangnya atau ke sampingnya apabila ternyata jenggot itu besar (tebal), maka itu satu hal yang baik.”

Dan Abu Syamah juga berkata: “Terdapat suatu kaum yang biasa mencukur jenggotnya. Berita yang terkenal, bahwa yang berbuat demikian itu ialah orang-orang Majusi, bahwa mereka itu biasa mencukur jenggotnya.

Kami berpendapat: Bahwa kebanyakan orang-orang Islam yang mencukur jenggotnya itu lantaran mereka meniru musuh-musuh mereka dan kaum penjajah negeri mereka dan orang-orang Yahudi dan Kristen. Sebagaimana kelazimannya, bahwa orang-orang yang kalah senantiasa meniru orang yang menang. Mereka melakukan hal itu jelas telah lupa kepada perintah Rasulullah yang menyuruh supaya mereka berbeda dengan orang-orang kafir. Di samping itu mereka telah lupa pula terhadap larangan Nabi tentang menyerupai orang kafir, seperti yang tersebut dalam hadisnya yang mengatakan:

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu termasuk golongan mereka.” (Riwayat Abu Dawud)

Kebanyakan ahli-ahli fiqih yang berpendapat tentang haramnya mencukur jenggot itu berdalil perintah Rasul di atas. Sedang tiap-tiap perintah asalnya menunjukkan pada wajib, lebih-lebih Rasulullah sendiri telah memberikan alasan perintahnya itu supaya kita berbeda dengan orang-orang kafir. Dan berbeda dengan orang kafir itu sendiri hukumnya wajib pula.

Tidak seorang pun ulama salaf yang meninggalkan kewajiban ini. Tetapi sementara ulama-ulama sekarang ada yang membolehkan mencukur jenggot karena terpengaruh oleh keadaan dan memang karena bencana yang telah meluas. Mereka ini berpendapat, bahwa memelihara jenggot itu termasuk perbuatan Rasulullah yang bersifat duniawiah, bukan termasuk persoalan syara’ yang harus ditaati. Tetapi yang benar, bahwa memelihara jenggot itu bukan sekedar fi’liyah Nabi, bahkan ditegaskan pula dengan perintah dan disertai alasan supaya berbeda dengan orang kafir,

Ibnu Taimiyah menegaskan, bahwa berbeda dengan orang kafir adalah suatu hal yang oleh syara’ ditekankan. Dan menyerupai orang kafir dalam lahiriahnya dapat menimbulkan perasaan kasih dalam hatinya, sebagaimana perasaan kasih dalam batin dapat menimbulkan perasaan dalam lahir. Ini sudah dibuktikan sendiri oleh suatu kenyataan dan diperoleh berdasarkan suatu percobaan.

Selanjutnya ia berkata: Al-Quran, Hadis dan Ijma’ sudah menegaskan terhadap perintah supaya berbeda dengan orang kafir dan dilarang menyerupai mereka secara keseluruhannya. Apa saja yang kiranya menimbulkan kerusakan walaupun agak tersembunyi, maka sudah dapat dikaitkan dengan suatu hukum dan dapat dinyatakan haram. Maka dalam hal menyerupai orang kafir pada lahiriahnya sudah merupakan sebab untuk menyerupai akhlak dan perbuatannya yang tercela, bahkan akan bisa berpengaruh pada kepercayaan. Pengaruhnya ini memang tidak dapat dikonkritkan, dan kejelekan yang ditimbulkan akibat dari sikap menyerupai itu sendiri kadang-kadang tidak begitu jelas, bahkan kadang-kadang sukar dibuktikan. Tetapi setiap hal yang menjadi sebab timbulnya suatu kerusakan, syara’ menganggapnya suatu hal yang haram.25

Dari keterangan-keterangan di atas dapat kita simpulkan, bahwa masalah mencukur jenggot ini ada tiga pendapat:

  1. Pendapat pertama: Hukumnya haram. Yang berpendapat demikian, ialah Ibnu Taimiyah dan lain-lain.
  2. Pendapat kedua: Makruh. Yang berpendapat demikian ialah Iyadh, sebagaimana tersebut dalam Fathul Bari. Sedang ulama lain tidak ada yang berpendapat demikian.
  3. Pendapat ketiga: Mubah. Yang berpendapat demikian sementara ulama sekarang.

Tetapi barangkali yang agak moderat dan bersikap tengah-tengah yaitu pendapat yang menyatakan makruh. Sebab tiap-tiap perintah tidak selamanya menunjukkan pada wajib, sekalipun dalam hal ini Nabi telah memberikan alasannya supaya berbeda dengan orang kafir. Perbandingan yang lebih mendekati kepada persoalan ini ialah tentang perintah menyemir rambut supaya berbeda dengan orang Yahudi dan Kristen. Tetapi sebagian sahabat ada yang tidak mengerjakannya. Oleh karena itu perintah tersebut sekedar menunjukkan sunnat.

Betul tidak ada seorang pun ulama salaf yang mencukur jenggot, tetapi barangkali saja karena mereka tidak begitu memerlukan, karena memelihara jenggot waktu itu sudah menjadi kebiasaan mereka.


Categories: Akademik TI UPY, Keislaman

Doa Pagi Ini

Ya Allah, Tuhanku Yang Maha Penyayang,

Ya Allah, tenagailah kesungguhanku untuk melakukan yang bisa kulakukan tanpa menunda, untuk melihat kesulitan sebagai perintah memampukan diri, dan menyikapi kesedihan sebagai undangan agar aku memperkuat hatiku.

Ya Allah, hentikan kebiasaanku memprotes kehidupan, mencibir karena iri terhadap orang yang lebih berhasil dariku, menghujat orang yang kutuduh mempersulit kehidupanku, memusuhi orang yang tidak membantuku, dan mencemooh orang yang menasihatiku.

Ya Allah, ramahkanlah wajah, suara, dan pendekatanku, saat aku merasa kehidupan ini tidak ramah.

Ya Allah, jadikanlah aku bekerja menguntungkan sesamaku, saat aku merasa dunia kurang memberi yang kubutuhkan.

Ya Allah, rahmatilah upayaku untuk menjadi pribadi yang mampu membiayai dan menjayakan kehidupanku sendiri.

Kumpulan Doa – Tuhanku Yang Maha Berkehendak

4 Februari 2012 1 komentar
Berdoa hanya kepada Allah SWT

Kumpulan Doa

Tuhanku Yang Maha Berkehendak,

Jadikanlah aku pribadi besar yang anggun dalam kewenanganku, yang penyayang dalam ketegasanku, yang dermawan dalam kelebihanku, dan yang tetap rendah hati dalam pemuliaanMu.

Aamiin

Syaamil Al-Qur’an – Al Faatihah

Syaamil Al-Qur’an – Al Faatihah

Klik Gambar untuk lebih detail

Syaamil Al-Qur'an: Al-Faatihah

(QS. 1:1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
(QS. 1:2) Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam
(QS. 1:3) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
(QS. 1:4) Yang menguasai hari pembalasan
(QS. 1:6) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah  dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
(QS. 1:5) Tunjukilah kami jalan yang lurus,
(QS. 1:7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Categories: Al Quran

Berdoalah hanya kepada Allah SWT

Hanya Allah yang mampu mengabulkan doa

Berdoa hanya kepada Allah SWTSaudaraku, Berdoalah hanya kepada Allah SWT saja, Dialah Allah yang memiliki sifat Al-Mujib yang maha mengijabahi setiap doa, sebab hanya Dialah semata yang memiliki kemampuan mengijbahi doa. Tak satupun mahluk yang mampu mengabulkan doa.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (QS. 13 : 14).

Berdoa selain kepada Allah adalah Perbuatan Syirik

Sesungguhnya berdoa kepada dzat yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharrat, yang tidak mampu memerintah dan melarang, tidak mampu mendengar dan tidak mampu memperkenankan doa, baik itu dari kalangan para nabi dan rasul, jin atau malaikat, bintang-bintang atau benda langit lainnya, pepohonan dan bebatuan serta orang-orang yang sudah mati, kesemuanya adalah kezhaliman yang besar, merupakan kesesatan dari jalan yang lurus dan perbuatan syirik terhadap Allah yang Maha Agung. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim”. (QS. Yunus : 106)

Juga firman Allah:

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka.” (QS. Al-Ahqaaf : 5)

Berdoa kepada selain Allah adalah perbuatan syirik dan merupakan dosa besar, bahkan dosa terbesar. Segala bentuk dosa bisa diampuni oleh Allah bagi siapa yang Allah kehendaki, kecuali dosa syirik. Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa : 48)

Pada Hari Kiamat nanti Allah akan mengumpulkan orang-orang musyrik dan setiap orang yang beribadah kepada-Nya, namun para sesembahan tersebut akan berlepas diri dari mereka, bahkan mengingkari penyembahan mereka. Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. ( Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Faathir : 13-15)

Ayat-ayat/Dalil-dalil Al Quran Tentang Doa

Berikut ini ayat-ayat atau dalil-dalil Al Quran tentang doa:

Berdoa hanya kepada Allah

Dalil-dalil AlQuran tentang doa

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (QS. 13 : 14).

Allah Maha Mengabulkan Doa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).

Berdoalah, Allah akan menghilangkan kesulitan dan Kesusahaanmu!

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. 27 : 62).

Orang yang tidak berdoa dihukumi sombong oleh Allah

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. 40 : 60).

Allah mengabulkan doa orang-orang beriman dan beramal saleh

“dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras” (QS. 42 : 26).

Artikel yang berhubungan:

Mutiara Hadits – Tiga Perkara Menyempurnakan Iman

17 Maret 2011 3 komentar

Rasulullah Besabda:

Ada tiga perkara yang barang siapa yang dapat mengumpulkan ketiga hal itu dalam dirinya, maka ia telah dapat mengumpulkan keimanan secara sempurna. Yaitu, memperlakukan orang lain sebagaimana engkau suka dirimu diperlakukan oleh orang lain, memberi salam terhadap setiap orang (yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal), dan mengeluarkan infak di jalan Allah, meskipun hanya sedikit (HR. Bukhari, 9)

This slideshow requires JavaScript.

Kata Bijak – Ngeh

15 November 2010 2 komentar

Barang Siapa “Ngeh” atas dirnya, maka ia akan “Ngeh” pada tuhannya.

(Muhammad SAW)

 

Ngeh

Categories: Kata Bijak, Mutiara Hadits Tag:

Al Hadits – Keutamaan Bulan Ramadhan

11 Agustus 2010 1 komentar

Al Hadits – Keutamaan Bulan Ramadhan

Dari Abu Hurairah ra:Ramadhan - Bulan Penuh Berkah

“Rasulullah saw. biasanya memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda: “Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik dari seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (H.R. Ahmad dan An Nasa’i).

Dari Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Ramadhan - Bulan Penuh Berkah

“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, mengahapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan Dia membangga-banggakanmu kepada malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang-orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini.” (H.R. Ath Thabrani, dan periwayatnya tsiqah).

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

“Umatku pada bulan Ramadhan diberi lima keutamaan yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu: bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kasturi, para malaikat memohonkan ampunan bagi mereka sampai mereka berbuka, Allah Azza Wajalla setiap hari menghiasai surganya lalu berfirman (kepada surga): “hampir tiba saatnya para hambaku yang shalih dibebaskan dari beban dan derita serta mereka menuju kepadamu.” Pada bulan ini para jin yang jahat diikat sehingga mereka tidak bebas bergerak seperti pada bulan lainnya, dan diberikan kepada umatku ampunan pada akhir malam.” Beliau ditanya: “Wahai Rasulullah apakah malam itu lailatul Qadar? Jawab beliau: “Tidak. Namun orang yang beramal tentu diberi balasannya jika menyelesaikan amalnya. (HR. Ahmad).

QS. Al A’raf :199 Memaafkan Kesalahan Teman

QS. Al-A'raf:199

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al A’raf :19)

Janganlah hanya karena satu aib tersembunyi atau dosa kecil atau kekhilafan yang sebenarnya bisa ditutupi oleh kebaikannya yang lebih banyak, kita menjauhi seseorang yang dulu kita puji kontribusinya, yang pernah mewarnai hidup kita, yang pernah menularkan ilmunya, yang pernah mebuat kita tertawa. Kita tak akan pernah mampu menemukan orang yang sempurna, sopan tanpa aib. Posisikanlah diri kita dalam posisinya maka kita akan mendapatkan sesuatu yang bisa dia rasakan.

Seorang penyair mengatakan “Siapa orang yang bisa engkau terima semua sikap hidupnya? Cukuplah seseorang dikatakan mulia bila aibnya bisa dihitung”

Biarlah segala kekurangan itu dialihkan dalam jiwa yang lapang dan hati yang damai. Jiwa yang damai adalah jiwa tanpa kemarahan.

Bukti mencintai adalah memaafkan dan menutup mata atas kekurangan orang yang kita cintai. Itupun kalau Ada. Aku berterimakasih pada orang-orang yang selalu mecintaiku, walaupun aku banyak kesalahan dan kekurangan. Aku mencintaimu juga. Sungguh.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 78 pengikut lainnya.