Wisata Religi – Masjid Al Muttaqun (Prambanan, Klaten, Jawa Tengah)


Masjid Al Muttaqun (Tampak Depan)

Masjid Al Muttaqun (Tampak Depan)

Masjid Al Muttaqun yang terletak di Prambanan, Klaten. Persisnya di sebelah selatan dari kawasan Candi Prambanan. Masjid Al Muttaqun adalah masjid favorit yang sering aku singgahi jika melintasi Jl. Jogja-Solo. Terakhir kali aku mengunjungi masjid ini  pada saat pulang dari undangan manten salah satu mahasiswa (Mas Bambang) di Karanganyar, 12 Desember 2009 yang lalu. Keindahan arsitektur, keteduhan dan kesejukan masjid cukup menghilangkan kepenatanku selama menempuh perjalanan yang cukup jauh. Berbagai sudut masjid menarik perhatian untuk diabadikan lewat kamera pinjaman Ibumei. Hasil jepretan  digunakan mempermanis postingan wisata religi ini.  Mudah-mudahan tulisan dan foto ini cukup mendeskripsikan aura dan atmosfir religius masjid Al Muttaqun bagi anda semua.

Sejarah Masjid Al Muttaqqun

Masjid Al-Muttaqun sendiri sebelumnya rusak dalam peristiwa gempa Jogja-Jateng 2006 silam. Pembangunan masjid ini kemudian dimulai di tahun 2007, atas prakarsa Presiden Susilo bambang Yudhoyono. Masjid yang pembangunannya menelan biaya sebesar Rp. 12 M tersebut dibangun di atas tanah kas desa, ditambah bangunan lagi di sisi timur melalui pembebasan tanah, yang kemudian difungsikan sebagai gedung serba guna. Pendanaan bersumber dari presiden SBY sebesar 1 M, beberapa tokoh, serta Menteri Urusan Wakaf dan Islam negara Qatar sebesar 9,5 M.

Peresmian Masjid Al Muttaqun

Peresmian Masjid Al Muttaqun

Masjid diresmikan Mendagri, Mardiyanto mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),  bersama Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, Jum’at 13 Maret 2009. Turut hadir dalam peresmian masjid, Wakil Kementrian Islam dan Wakaf Pemerintah Qatar, Muhammad bin Asslam Hadad Khawari, Pimpinan Persatuan Ulama Dunia, Dr Wahid Hasan Khalif Hasan Hindawi, Dirjen BInasos Depsos, Dr Gunawan Somadiningrat, Gubernur Jateng, Bibit Waluyo, Bupati Klaten, Sunarno, dan sejumlah ulama setempat.

Masjid Al Muttaqun (Malam Hari)

Masjid Al Muttaqun (Malam Hari)

Beragam “tafsir” tentang berdirinya kembali masjid Al Muttaqun. Petinggi yang hadir, dan dalam menyampaikan kata sambutanpun memberi penafsiran sendiri-sendiri. Gubernur Bibit Waluyo, misalnya, menyatakan, pembangunan kembali masjid ini mewujudkan kearifan lokal — dengan berbasis sosial-budaya. “Ini selaras dengan konsep pembangunan Jawa Tengah ‘Bali Deso Bangun Deso’,” katanya.
Keberadaan masjid yang berdiri megah berdampingan dengan Candi Prambanan ini, untuk meningkatkan kesadaran umat islam untuk membangun keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat. Ini merupakan pembangun sendi-sendi perikehidupan berbudaya, bermasyarakat dan berbangsa. Hal ini merupakan modal utama untuk membangun ditengah keberagaman.
Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR yang juga Ketua Dewan Pembina Masjid Raya AL Muttaqun dan Islamic Centre Asy Jasim Bin Muhammad Alitsani, mengatakan, ”dalam membangun kembali masjid ini merupakan obsesi konsep ‘bali deso bangun deso”. Tekad membangun kembali yang rusak akibat gempa bumi tektonik 27 Mei 2006, kata dia, diilhami mitos ceritera kisah Bandung Bodowoso membangun Candi Seribu dalam tempo semalam.

Arsitektur Masjid Al Muttaqun

Arsitek Masjid Al Mutttaqun mengadopsi masjid-masjid bersejarah di tanah air, spanyol, dan Arab Saudi. Sebagian, mengadopsi masjid Keraton Kasunanan Surakarta, masjid Kasultanan Yogyakarta, masjid Walisongo Demak. Demikian juga, menara kembar dan pintu gerbang masjid Cordova Spanyol. Sebagian, mencuplik arsitek masjid Makah dan Madinah. Arsitektur Masjid Al Muttaqun dirancang oleh Ir Budi Faisal, insinyur sipil asal Kota Bandung dan Ir Robi, insinyur sipil asal Kota Bodowoso, semakin menguatkan kesan bahwa masjid ini dibangun dengan semangat mitos Bandung Bondowoso. Walaupun menurut aku sih justru bertentangan dengan mitos tersebut. Masjid ini dibangun kembali karena runtuh oleh gempa tektonik yang menimpa Jogja-Jateng. Tetapi kalo mitos Bandung Bondowoso berbeda, candi dibangun dalam sehari kemudian diruntuhkan kembali karena merasa dikerjai oleh sang putri . Mungkin maksudnya bahwa maksudnya dibangun dengan sangat cepat, seperti dalam mitos Bandung Bondowoso.

Nuansa jawa sangat kental terasa karena mihrab  (pengimaman) berbentuk ‘gunungan wayang’. Gunungan memberi makna sebagai bahasa alam yang dipercaya sebagai bentuk isyarat akan kehendak Gusti Kang Murbeng Gesang, Pemberi Kehidupan. Ornamen-ornamen kaligrafi yang mengelilingi ruang dalam masjid berukuran sekitar 14×18 meter,  bertuliskan nama-nama para sunan dan khulafaur rosyidin.  Ornamen-ornamen kaligrafi dalam bentuk ukiran kayu ini menambah semakin menguatkan nuansa Jawa. Lampu yang menggantung di langit ruangan, menambah kemewahan bagian dalam masjid. Mimbar khotib diposisikan sangat tinggi, sehingga jamaah melihat khotib dengan jelas. Di bagian luar ruang, dindingnya belapis keramik dengan diominasi warna hitam. Teras dipagari dengan bahan logam berwarna perunggu dan bercorak simetris yang merupakan khas arsitektur timur tengah.

Interior Masjid Al Muttaqun

Interior Masjid Al Muttaqun

Iklan

10 thoughts on “Wisata Religi – Masjid Al Muttaqun (Prambanan, Klaten, Jawa Tengah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s