Behavioristik Vs Kognitif-Konstruktivistik


Dua aliran filsafat pendidikan yang memengaruhi arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dewasa ini adalah aliran behavioristik dan kognitif-konstruktivistik. Aliran behavioristik menekankan terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar, sedangkan aliran kognitif-konstruktivistik lebih menekankan pembentukan perilaku internal yang sangat memengaruhi perilaku yang tampak itu.

Teori behavioristik dengan model hubungan Stimulus-Response (S-R) mendudukkan pebelajar pada posisi pasif. Respon (perilaku) tertentu dapat dibentuk karena dikondisikan dengan cara tertentu, menggunakan metode drill (pembiasaan) semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement, dan akan menghilang bila yang dikenakan adalah hukuman. Hubungan S-R, individu pasif, perilaku yang tampak, pembentukan perilaku dengan penataan kondisi secara ketat, reinforcement dan hukuman merupakan unsur-unsur terpenting dalam teori behavioristik.

Teori kognitif-konstruktivistik berupaya mendeskripsikan yang terjadi dalam diri pebelajar. Aliran ini lebih menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa internal. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru dengan jalan mengaitkannya dengan struktur informasi yang telah dimiliki. Belajar terjadi lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu. Penataan kondisi bukan sebagai penyebab terjadinya belajar, tetapi sekadar memudahkan belajar. Aktivitas siswa menjadi unsur terpenting dalam menentukan kesuksesan belajar.

Analisis Komparatif: Behavioristik vs. Kognitif-Konstruktivistik

 

Kesimpulan penting dan menonjol dari pembandingan teori behavioristik dan kognitif-konstruktivistik adalah pada keteraturan dalam teori behavioristik dan ketidakteraturan dalam teori kognitif-konstruktivistik. Sentralisasi pendidikan yang – masih – berlaku di Indonesia saat ini lebih banyak bersumber pada teori behavioristik, sedangkan kaidah-kaidah kognitif-konstruktivistik justru mengutamakan demokratisasi. Pengajar beraliran behavioristik akan mengedepankan keseragaman demi keteraturan dan ketertiban melalui penegakan aturan, sedangkan pengajar beraliran kognitif-konstruktivistik berupaya mengelola keniscayaan keragaman dalam penataan lingkungan belajar yang membebaskan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s