Syaamil Al-Qur’an – Al Faatihah

Syaamil Al-Qur’an – Al Faatihah

Klik Gambar untuk lebih detail

Syaamil Al-Qur'an: Al-Faatihah

(QS. 1:1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
(QS. 1:2) Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam
(QS. 1:3) Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
(QS. 1:4) Yang menguasai hari pembalasan
(QS. 1:6) Hanya kepada Engkaulah kami menyembah  dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
(QS. 1:5) Tunjukilah kami jalan yang lurus,
(QS. 1:7) (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Ayat-ayat/Dalil-dalil Al Quran Tentang Doa

Berikut ini ayat-ayat atau dalil-dalil Al Quran tentang doa:

Berdoa hanya kepada Allah

Dalil-dalil AlQuran tentang doa

“Hanya bagi Allah-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya[769]. Dan doa (ibadat) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (QS. 13 : 14).

Allah Maha Mengabulkan Doa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2 : 186).

Berdoalah, Allah akan menghilangkan kesulitan dan Kesusahaanmu!

“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. 27 : 62).

Orang yang tidak berdoa dihukumi sombong oleh Allah

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. 40 : 60).

Allah mengabulkan doa orang-orang beriman dan beramal saleh

“dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras” (QS. 42 : 26).

Artikel yang berhubungan:

QS. Al A’raf :199 Memaafkan Kesalahan Teman

QS. Al-A'raf:199

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al A’raf :19)

Janganlah hanya karena satu aib tersembunyi atau dosa kecil atau kekhilafan yang sebenarnya bisa ditutupi oleh kebaikannya yang lebih banyak, kita menjauhi seseorang yang dulu kita puji kontribusinya, yang pernah mewarnai hidup kita, yang pernah menularkan ilmunya, yang pernah mebuat kita tertawa. Kita tak akan pernah mampu menemukan orang yang sempurna, sopan tanpa aib. Posisikanlah diri kita dalam posisinya maka kita akan mendapatkan sesuatu yang bisa dia rasakan.

Seorang penyair mengatakan “Siapa orang yang bisa engkau terima semua sikap hidupnya? Cukuplah seseorang dikatakan mulia bila aibnya bisa dihitung”

Biarlah segala kekurangan itu dialihkan dalam jiwa yang lapang dan hati yang damai. Jiwa yang damai adalah jiwa tanpa kemarahan.

Bukti mencintai adalah memaafkan dan menutup mata atas kekurangan orang yang kita cintai. Itupun kalau Ada. Aku berterimakasih pada orang-orang yang selalu mecintaiku, walaupun aku banyak kesalahan dan kekurangan. Aku mencintaimu juga. Sungguh.

Al Quran – Ali Imron Ayat 180 (Sifat Bakhil)

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)

Pendapat para ulama tentang ayat ini:

Pendapat pertama menerangkan, bahwa mereka adalah orang-orang yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan harta, tetapi mereka bakhil (menahan diri) dalam menginfaqkan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidak menunaikan (mengeluarkan) zakatnya. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhuma, riwayat Abu Shalih dari Ibnu Abbas rahiyallahu ‘anhuma, Abu Wa’il, Abu Malik, Asy-Sya’bi, Ibrahim An-Nakha’i, As-Suddi pada sebagian riwayat.

Pendapat kedua, mereka adalah orang-orang Yahudi. Mereka bakhil yaitu tidak mau menjelaskan kepada manusia tentang apa saja yang ada dalam Taurat, juga tentang kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta sifat-sifatnya. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas rahiyallahu ‘anhuma dan Mujahid rahimahullahu.

Rasulullah bersabda: “Bakhil itu adalah orang yang menahan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala (tidak mau menginfaqkan hartanya). Maka kelak di hari kiamat (harta tersebut) akan diubah menjadi seekor ular jantan yang ganas berbisa, dan dilingkarkan di lehernya.”


Pemaknaan ini juga sesuai dengan konteks ayat yang ada sesudahnya, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya’.” Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati orang-orang musyrikin dari kalangan Yahudi, mereka menanggapi perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, berupa kewajiban menunaikan zakat, dengan pernyataan: “Sesungguhnya Dia miskin.”

Adapun makna bakhil, kata Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu, adalah manusia yang menahan hartanya (tidak memberikan/memenuhi) sesuatu dari haknya yang wajib (zakat, infaq fi sabilillah). Adapun menahan harta pada perkara yang tidak wajib atasnya untuk mengeluarkan zakat, bukanlah kebakhilan.

Hukum bagi orang yang tidak menunaikan zakat karena kebakhilan

Seperti yang dijelaskan oleh para ulama ahli tafsir, kebakhilan seseorang atas harta yang dimilikinya, akan mengakibatkan keburukan, baik terhadap agama maupun dunianya, dalam waktu yang segera (di dunia) atau ditunda waktu yang akan datang (di alam kubur/alam akhirat).
Di antara akibat yang disegerakan di dunia adalah:

Baca lebih lanjut